Guru adalah pengajar yang mendidik. Ia tidak hanya mengajar bidang studi yang sesuai dengan kemampuannya, tetapi juga menjadi pendidik pemuda generasi bangsanya. Guru yang mengajar siswa adalah seorang pribadi yang tumbuh menjadi penyandang profesi bidang studi tertentu. Tugas utama seorang guru adalah membelajarkan murid. Ini berarti bahwa bila guru bertindak mengajar, maka diharapkan siswa belajar. Namun adakalanya di dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah sering di temukannya masalah-masalah yang berkenaan dengan belajar yang dialami siswa tersebut. Masalah-masalah tersebut dipengaruhi oleh faktor internal (yang berasal dari dalam diri siswa) dan juga oleh faktor eksternal (yang berasal dari luar siswa itu sendiri).
Masalah-masalah yang dialami oleh siswa apa bila tidak segera diatasi tentunya akan menghambat proses belajar siswa dan akan berdampak pada pencapaian tujuan dari belajar tersebut. Siswa akan berhasil dalam proses belajar apabila siswa itu tidak mempunyai masalah yang dapat berpengaruh proses belajar nya. Jika terdapat siswa yang mempunyai masalah dan permasalahan siswa tersebut tidak segera ditemukan solusi nya. Siswa akan mengalami kegagalan atau kesulitan belajar yang dapat mengakibatkan rendah prestasinya /tidak lulus, minat belajar atau tidak dapat melanjutkan belajar. Untuk itu, sebagai seorang guru atau pun pendidik kita harus mengetahui kondisi siswa agar tercipta proses pembelajaran yang baik dan kondusif.
Ki Hadjar Dewantara menekankan bahwa tujuan pendidikan itu 'menuntun tumbuhnya atau hidupnya kekuatan kodrat anak sehingga dapat memperbaiki lakunya. oleh sebab itu peran seorang coach (pendidik) adalah menuntun segala kekuatan kodrat (potensi) agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai manusia maupun anggota masyarakat.
Ki Hadjar Dewantara menegaskan bahwa pendidikan itu suatu tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Ini berarti bahwa hidup tumbuhnya anakanak itu terletak di luar kecakapan atau kehendak para pendidik. Anak itu sebagai makhluk, sebagai manusia, sebagai benda hidup teranglah hidup dan tumbuh menurut kodratnya sendiri. Seperti yang termaktub di muka, maka apa yang dikatakan kekuatan kodrati yang ada pada anak itu tidak lain ialah segala kekuatan di dalam hidup batin dan hidup lahir dari anak-anak itu, yang ada karena kekuatan kodrat. Kaum pendidik hanya dapat menuntun tumbuhnya atau hidupnya kekuatan-kekuatan itu, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya itu. Dari konsepsi tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa Ki Hadjar Dewantara ingin;
a)
menempatkan anak didik sebagai pusat pendidikan,
b)
memandang pendidikan sebagai suatu proses yang dengan demikian bersifat
dinamis, dan
c)
mengutamakan keseimbangan antar cipta, rasa, dan karsa dalam diri anak.
Dengan demikian pendidikan yang dimaksud oleh Ki Hadjar Dewantara memperhatikan keseimbangan cipta, rasa, dan karsa tidak hanya sekedar proses alih ilmu pengetahuan saja atau transfer of knowledge, tetapi sekaligus pendidikan juga sebagai proses transformasi nilai (transformation of value). Dengan kata lain pendidikan adalah proses pembetukan karakter manusia agar menjadi sebenar-benar manusia.
Pendidikan adalah kehidupan membangun karakter. Hanya dengan karakter yang baiklah akan mendapatkan kualitas pendidikan yang baik. Displin adalah salah satu dari karakter yang seharusnya dimiliki oleh warga sekolah baik siswa, guru maupun tenaga kependidikan lainya. Dengan displin kita diharapkan akan hidup lebih teratur. Keteraturan itulah membuat yang satu dengan yang lainnya tidak saling berbenturan. Bagimana car akita sebagai guru dalam mendisiplinkan murid dengan keragaman karakter dan kebutuhan murid?
Murid sebagai manusia biasa memiliki kebutuhan dan karaktern yang berbeda, demikian pula dalam kita juga memahami bahwa setiap orang memiliki gambaran dan pandangan yang berbeda tentang segala hal sehingga kita menyadari bahwa kita tidak bisa mengontrol orang lain namun diri kita sendiri yang bisa mengontrol diri kita. Dalam berinteraksi dengan sesama manusia model berpikir win-win solution perlu diterapkan, tidak perlu ada yang kalah dalam interaksi . Oleh karena dalam win win solution perlu pula diterapkan dalam berinteraksi dengan murid kita terutama saat mereka berbuat pelanggaran disiplin.
Saat guru di sekolah diperhadapkan dengan keberagaman sikap murid dalam setiap masalah yang dihadapi sehingga kita dapat memilih cara yang terbaik dalam mendisiplinkan murid tanpa adanya hukuman, penilaian sepihak dan sangksi. Model pendidsiplinan terhadap murid yang kita lakukan selama ini menggunakan model strap dengan harapan murid tidak akan mengulangi lagi kesalahan yang sama namun pada faktanya kembali melakukan hal yang sama, pada akhirnya kita merasa tidak berhasil dalam mendidik dan tidak sedikit kita memberi label bahwa murid ini bandel murid ini nakal dan tidak bisa diubah . Pada saat kita diperhadapkan dengan masalah pelangaran disiplin oleh murid selama ini kita tidak sadari menjalani beberpa peran posisi guru yaitu ;
1. Posisi sebagai Penghukum. Akan menimbulkan reaksi emosi negatif murid setelah dimarahi dan hukuman akan membuatnya merasa dipermalukan. Penggunaan hukuman justru akan merugikan murid di jangka panjang hukuman yang jauh lebih merugikan dibandingkan perubahan perilaku yang bisa saja hanya terjadi sementara terhadap penggunaan posisi penghukum akan muncul reaksi tak peduli dan kemungkinan lainnya murid memang tidak akan mengulangi kesalahannya namun motivasi murid tidak datang dari dalam dirinya motivasi dibalik perbuatan itu adalah karena Takut dimarahi atau takut sakit hati. Terkadang pula dalam posisi kita memberikan hukuman yang tidak berkolerasi dengan kesalahan yang diperbuat murid contoh murid yang dating terlambat kita beri hukuman dengan berdiri di depan kelas dihadapan teman-temannya tidak hanya akan menimbulkan rasa trauma dan benci kepada gurunya. Semestinya kita menggali informasi mengapa murid dating terlambat? Apakah karena kebutuhan dasarnya tidak terpenuhi? Murid mungkin datang terlambat karena harus membantu ibunya atau kesiangan karena ibunya tidak membangunkannya maka ia mungkin sedang berupaya memenuhi cinta dan kasih sayang dia ingin diperhatikan oleh gurunya Setiap manusia pula memiliki lima kebutuhan dasar, yaitu meliputi kebutuhan bertahan hidup, kebutuhan untuk diterima (cinta dan kasih sayang), kebutuhan pengakuan atas kemampuan (penguasaan), kebutuhan untuk menentukan plihan (kebebasan), dan kebutuhan untuk merasa senang (kesenangan) Dengan mengerti dan membuka diri atas beragamnya kebutuhan dasar manusia maka kita bisa memberikan ruang kepercayaan dan empati pada setiap kesalahan murid ketika kita bisa mengerti kebutuhan Apa yang sedang ia ingin penuhi reaksi kita akan menjadi lebih tenang tidak menghakimi kita bisa berkomunikasi dengan lebih baik kepada murid itu sih bisa kita mulai Dengan memahami kebutuhan dasar manusia kita menjadi lebih sadar bahwa murid kita sebenarnya adalah manusia sama seperti kita mereka juga bisa salah.
2. Posisi kita sebagai teman terhadap murid. Mereka akan berpikir bahwa guru akan akan selalu membantu dan memberikan keringanan apabila ada masalah. Murid akan merasa bisa mengandalkan guru untuk membantunya. Dampaknya untuk berubah adalah demi guru tertentu ,namun dampak lain yang mungkin terjadi adalah munculnya perilaku yang berbeda pada guru yang lain. Demikian pula pada saat guru yang dianggap sebagai teman tadi berhenti memberikan perhatian dan perlindungan dari masalah maka murid tersebut akan kecewa dan motivasinya untuk mematuhi aturan akan hilang. Posisi guru dalam mendisiplinkan murid seperti ini tidak mendorong rasa kemandirian murid untuk memahami diri dan bertanggung jawab atas semua tindakannya.
3. Posisi guru sebagai pemantau guru memposisikan menjadi pemantau artinya guru bertanggung jawab atas perilaku orang-orang yang diawasi saat murid menjalankan konsekuensinya memonitor tindakan murid atas dasar peraturan dan konsekwensi pujian dan saksi. Pada saat murid menyelesaikan tugas dengan tepat waktu kita memberikan penghargaan namun posisi ini manakalah guru lalai memberikan pujian maka murid akan merasa tidak dihargai dan motivasi dan semangatnya hilang. Demikian pula pada saat posisi guru memantau kesalahan siswa yang melanggar aturan dengan memberikan konsekwensi sanksi atas pelanggaran yang dibuat manakala terlepas dari pantauan guru murid akan kembali berulah. Konsep ini mereka hanya sekedar menjalankan sanksi dan tidak memahami esensi tujuan dari sanksi untuk mendisiplinkan mereka. Terkadang kita merasa capek karena banyaknya pekerjaan jadi kita memilih jalur cepat bagi murid untuk menyelesaikan masalahnya yaitu melalui hukuman dan konsekuensi ini tidak melatih murid untuk mempunyai perilaku berpikir kritis sebagai pemecah masalah yang baik pada permasalahannya.
Keempat
posisi tadi merupakan model pendisiplinan yang akan hanya melahirkan motivasi
kesadaran murid secara ekstrenal dan tidak membangkitkan motivasi murid secara
internal dengan memberikan kesempatan kepada
murid
Bagaimana caranya agar mereka bisa memperbaiki keadaan mereka sendiri , ehingga Murid dapat menyadari dan menghargai dirinya sebagai individu yang positif dalam dunia berkualitas. Model pendisiplinan yang sesuai konsep merdeka belajar pada saat proses membangun disiplin posisitif dan karakter yang baik pada murid pada saat ada masalah yang kita hadapi di kelas dan lingkungan sekolah?
Model pendisiplinan yng cocok adalah posisi guru sebagai manajer dan coach bagi murid harus mampu memahami keragaman karakter dan kebutuhan Muridnya. Kemudiaan kita lakukan dengan Langkah – Langkah TIRTA dan Prinsip Restitusi. Restitusi adalah proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat (Gossen; 2004) . Proses ini sangat dianjurkan dengan memerhatikan segitiga restitusi yaitu, menstabilkan identitas, memvalidasi tindakan yang salah, dan menanyakan keyakinan kelas. Keyakinan kelas adalah bentuk kesepakatan yang dibuat oleh murid itu sendiri di dalam kelas. Ia berbentuk abstrak dan mengandung nilai-nilai kebajikan untuk menanamkan karakter positif dan motivasi internal bagi para murid.
Maka
Langkah awal yang perlu dilakukan guru di sekolah adalah membuat keyakinan kelas degan melibatkan murid sendiri yang
akan menentukan nilai nilai apa yang akn menjadi komitmen kelas mereka.
Sehingga pada saat guru menemukan pelanggaran disiplin murid, guru dapat melakukan Langkah Langkah sebagai berikut:
1. Mestabilkan
identitas bahwa semua orang mempunyai
masalah dengan menciptakan suasana positif guru sebagai coach menvalidasi kebutuhan murid dengan pertanyaan
pertanyaan terbuka untuk mengetahui motivasi atas prilaku negative yang
dilakukan murid [Langkah Tujuan dalam TIRTA].
2. Mengajak murid untuk
berpikir dan menganalisis kesalahannya
[Langkah identifikasi masalah dalam TIRTA],
3. Memberi ruang pada murid
untuk memikirkan solusi terbaik [Langkah
rencana Aksi dalam TIRTA].
4. Selanjutnya membangun komitmen dengan menanyakan aksi nyata yang akan dilakukan murid sebagai wujud tanggung jawab yang lahir atas kesadaran sendiri dari keyakinan atas nilai nilai yang diyakini. {Langkah Tanggung jawab Dalam TIRTA]
Posisi guru sebagai manajer dan coach dalam langkah-langkah TIRTA dan segitiga Restitusi memberikan kemerdekaan untuk murid dalam menyelesaikan masalahnya bukan guru yang memutuskan. Pada ruang ini murid akan mengevaluasi dan memperbaiki dirinya dengan perilaku positif ditunjukkan karena motivasi untuk menjadi diri yang lebih baik dan menjalankan nilai-nilai yang mereka yakini bukan karena adanya hukuman ataupun imbalan
Murid akan berada pada level motivasi internal sehingga murid kita dapat tumbuh menjadi manusia yang merdeka Mandiri dan bertanggung jawab akan memiliki konsep diri yang positif dan menghargai diri mereka sendiri walaupun berbuat salah mereka akan paham bahwa itu adalah hal yang manusiawi dan mereka akan menjadikannya sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri motivasi internal yang kuat untuk mengontrol dirinya sendiri sehingga muncul penghargaan terhadap diri sendiri dan orang lain serta murid merasa lebih berharga dan percaya diri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar